Saat Terpana dan terpaku, dio sela kegalauan hati dan kelelahan jiwa, menghadapi semua yang kurasa tak mungkun aku hadapi atau selsaikan sendiri, kembali ku teringat suatu kenangan saat dimana tawa dan canda bersama kalianj membuat, di sela waktu itu jiwa ku terasa sangat kuat , di selang waktu bersama kalian ku takan lupa, di kenangan itu ku ingat pernah berkata " setiap tantangan semakin berat semakin menakjubkan, tak sedikitpun ku rasa ragu untuk menghadapi tantangan sesulit apapun, tak gentar sedikitpun raga ini menghadapi semua yang menghalang, selama kalian bersamaku kawan selama warna kuning tersemat di lengan kananku, " meski kini ku sadari malunya hati ini pernah mengucap kata kesombongan itu, tp ku mulai sadar akn hilangnya jati diriku yang selam ini ku pertaruhkan, sedikit ku rasa asing pada diri sendiri,, seraya ku bangkit kembali berdiri dan terasa lapanglah dada ini, terasa luntur semua beban ini,,
setiap ku ingat ini, ku ucap bangga pernah berseragam kan balutan baju perang ardlisela...
Ku mencintaimu Seperti bumi Mencintai titah Tuhannya. Tak pernah lelah Menanggung beban derita Tak pernah lelah Menghisap luka
Kau mencintaiku Seperti matahari Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah Membagi cerah cahaya Tak pernah lelah Menghangatkan jiwa
Kau mencintaiku Seperti air Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah Membersihkan lara Tak pernah lelah Menyejukkan dahaga
Kau mencintaiku Seperti bunga Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah Menebar mekar aroma bahagia Tak pernah lelah Meneduhkan gelisah nyala
Sekalipun cinta telah ku uraikan,
dan ku jelaskan panjang lebar,
namun jika cita kudatangi,
aku jadi malu pada keteranganku sendiri...
meskipun lidahku telah mampu menguraikan,
namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang..
sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya..
kata-kata pecah berkeping-keping,
begitu sampai kepada cinta..
dalam menguraikan cinta,
akal terbaring tak berdaya,
bagaikan keldai terbaring dalam lumpur..
cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan..
dan ku jelaskan panjang lebar,
namun jika cita kudatangi,
aku jadi malu pada keteranganku sendiri...
meskipun lidahku telah mampu menguraikan,
namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang..
sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya..
kata-kata pecah berkeping-keping,
begitu sampai kepada cinta..
dalam menguraikan cinta,
akal terbaring tak berdaya,
bagaikan keldai terbaring dalam lumpur..
cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan..
AkuTerus melajuSaat badai ujian menerpa tubuh yang lusuhTapi hati ku takkan mudah rapuh
Kadang lelah memeras peluhTapi api semangat membunuh luluhKakiku terus melangkahSeiring desah berserah
SemangatkuSemangat para pemenangYang tak mematikan harapanDan senantiasa berbaik sangka pada Tuhan
IkhtiarkuIkhtiar para pejuangYang tak mudah melemasYang tak mudah memelasTak mudah melunglai sebelum batas
IkhlaskuIkhlas para pembelajarYang tak bosan mengarahkan hatiPada penghambaan sejati
YakinkuUjian diberikanSesuai kadar kemampuan
Kadang lelah memeras peluhTapi api semangat membunuh luluhKakiku terus melangkahSeiring desah berserah
SemangatkuSemangat para pemenangYang tak mematikan harapanDan senantiasa berbaik sangka pada Tuhan
IkhtiarkuIkhtiar para pejuangYang tak mudah melemasYang tak mudah memelasTak mudah melunglai sebelum batas
IkhlaskuIkhlas para pembelajarYang tak bosan mengarahkan hatiPada penghambaan sejati
YakinkuUjian diberikanSesuai kadar kemampuan
Langganan:
Komentar (Atom)